“Ayo, Timpukin Bebeknyaaaa!!!!”

Buat gue itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa dimana hal itu menunjukkan kalau orang – orang disana saling menjaga apapun termasuk yang bukan milik mereka.

Pernah suatu hari ketika gue bersama keluarga sedang pergi ke rumah nenek gue  di daerah Bantul, Yogyakarta. Gue lupa apa tujuan kami ke sana. Yang gue inget tujuan gue kesana supaya ketika pulang dari rumah nenek, gue bisa membawa pulang kue dan uang dari nenek gue tercinta.

Bukannya gue kurang mendapat duit dari nyokap bokap gue, tapi nyokap gue waktu itu lagi ngurangin uang jajan gue gara – gara waktu itu gue lagi hobi ngoleksi keong dan nyokap gue kesel ketika setiap pulang sekolah gue selalu membawa keong – keong langka terbaru.

Terus bukan juga karena gue jarang dapet kue dari nyokap gue, tapi gara – gara gue dilarang kebanyakan ngemil kue sama nyokap. Kata nyokap gue, “Vi, kamu tuh jelek kalo terlalu gemuk. Kaya om – om.” Nyokap gue emang  paling baik. Dia gak mau anaknya keliatan jelek. Atau lebih tepatnya, dia gak mau anaknya yang udah jelek jadi makin jelek.

Gue selalu senang setiap berkunjung ke rumah nenek gue yang satu ini. Selain karena daerahnya yang jauh dari kebisingan kota yang berarti juga daerah disana sangat sejuk, disana gue juga bisa bertemen dengan kalangan yang jarang gue temukan di tempat tinggal gue. Mereka adalah mbah Setro dan mbah Mijo yang mana mereka adalah sahabat nenek gue. Di sana gue cuma bisa main sama mereka.

Suatu ketika gue, adek – adek gue (ardy, danas) dan bokap gue jalan – jalan di tepi Kali Opak yang letaknya gak jauh dari rumah nenek gue. Biasa lah cari – cari keseruan ditempat yang gak mungkin gue temukan di Jakarta. Sungai yang airnya masih jernih dimana kita masih bisa melihat batu – batu kali didasar sungai berhiaskan lumut dibagian sungai yang tidak terlalu dalam. Untuk yang dibagian dalam gue kurang tau ada apa didasarnya. Kalo kalian siap tenggelam, gue harap kalian bisa mencoba kesana dan menceritakan apa yang kalian lihat didasar kali opak yang belum bisa gue lihat sampai saat ini. Kami jalan – jalan dan kami melihat sekumpulan bebek yang sedang berenang dengan asiknya. Karena di Jakarta gue hampir gak pernah melihat bebek yang belom di goreng alias masih hidup gue langsung terpikir untuk ngelemparin batu kearah bebek – bebek itu. Sungguh gue memang pecinta binatang.

Pertamanya gue cuma nimpukin ke airnya untuk membuat bebek itu sedikit bereaksi. Tapi lama – lama ketika adek – adek gue mulai ngikutin menimpukin bebek itu gue makin tertantang untuk jauh lebih jago dari adek – adek gue. Maka gue arahkan batu – batu yang lumayan besar itu ke arah bebek. Dan lemparan gue telak banget mengenai kepala itu bebek. Dan karena batunya sebesar batu bata bebek itu langsung tenggelam dan gak muncul – muncul lagi. Hebat kan gue? Haha.

Tiba – tiba ada seorang lelaki dewasa agak kurus datang ke arah kami dengan muka kesalnya. Mukanya sih gak terlalu seram. Tapi yang bikin seram adalah karena dia bawa golok. Dia ngomel – ngomel pake bahasa jawa yang saat itu gue belum paham. Intinya bokap gue melawan dengan halus dan meminta maaf. Orang itu memang bukan pemilik bebek – bebek itu. Tapi dia tau kalau itu bebek pasti ada yang punya. Itu pelajaran yang sangat berharga dalam hidup gue dimana pola pikir gue saat itu adalah, “ah itu bukan punya gue, masa bodoh.” Buat gue itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa dimana hal itu menunjukkan kalau orang – orang disana saling menjaga apapun termasuk yang bukan milik mereka. Satu lagi, gue bersyukur itu orang belom sempat melemparkan goloknya ke leher gue. Hahaha.

Sekian atikel gue kali ini. Like, share dan follow / subscribe jika kalian suka dengan artikel ini. Kalau kalian mau kasih dukungan buat gue beli kopi bisa klik atau scan QR Code dibawah. Terima kasih sudah membaca.

https://saweria.co/alvipunyacerita

Salam Anget,

-Alvi Alevi-

Sumber gambar : Water photo created by pvproductions – www.freepik.com

Penulis: Alvi Alevi

Male, 1993, Sagitarius, First Child, Indonesian.

14 tanggapan untuk ““Ayo, Timpukin Bebeknyaaaa!!!!””

Berikan Apresiasi Kalian terhadap Tulisan Ini dengan Berkomentar. Terimakasih.

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s