Vaksinasi di Indonesia Dimulai, Perpecahan di Group Whatsapp Keluarga juga Dimulai

Berikut adalah tips untuk meminimalisir kemungkinan perpecahan di group whatsapp keluarga.

Kadang gue bingung, kenapa ya seakan-akan di group keluarga itu harus banget satu suara dan satu pendapat untuk hal-hal yang sebenarnya adalah urusan pribadi. Group keluarga yang sewajarnya adalah untuk menjalin hubungan kekeluargaan malah akhirnya merusak hubungan.

Dan ini adalah kejadian di salah satu group whatsapp keluarga besar gue.

Sebut saja nama group whatsapp-nya adalah GROUP KELUARGA CERAMAH.

Cuma gara-gara Pak Presiden kita, Pak Jokowi menjadi peserta pertama program vaksinasi di Indonesia dan videonya beredar dimana-mana termasuk di GROUP KELUARGA CERAMAH, terus ada yang membalas video tersebut dengan video lain (entah dari mana sumbernya) tentang adanya vaksin yang mematikan, tiba-tiba salah satu om saya left GROUP KELUARGA CERAMAH setelah memberi balasan terakhir “Ndobosss…

Setelah itu yasudah, beberapa cuma hayo hayo dan beberapa berusaha menenangkan dan sedikit memberi nasihat.

Baca juga : Aku Benci Pikiran Liarku Tentang Vaksinasi Covid-19

Oke lanjut. Tapi ada iklan dulu. Siapa tau aja butuh cosmetics. Hehe.

Lanjut scroll kebawah ya.

Sebenarnya gimana sih bentuk partisipasi sebagai anggota group whatsapp keluarga yang sehat dan tidak menimbulkan perpecahan?

Kalau memilih jadi anggota pasif hanya demi untuk menjaga suasana group whatsapp tetap kondusif rasanya juga kurang tepat.

Mungkin yang punya jawabannya bisa tulis di kolom komentar di bawah.

Tapi kalau menurut gue, ada beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan perpecahan di group whatsapp keluarga.

Berikut adalah tips untuk meminimalisir kemungkinan perpecahan di group whatsapp keluarga.

1. Jangan membahas perbedaan pandangan politik dan atau pro kontra kebijakan pemerintah, perbedaan suku, agama dan ras.

Kalau perlu, tidak perlu menyebut nama partai, nama presiden, nama wakil presiden, nama meteri, nama gubernur, nama ormas dan nama-nama lainnya yang menyangkut politik dan pemerintahan. Jika keluarga kalian terdiri dari beberapa suku, agama dan ras lebih baik hindari share tentang iman, kepercayaan. Gak perlu share khotbah Romo, Pendeta, Ustad, Ulama, Kyai, Habib dan lain sebagainya. Lebih baik share video motivasi yang bersifat umum.


2. Jangan share berita, foto dan video apapun yang tidak jelas sumbernya.

Apa lagi nyebarin gambar tangkapan layar facebook siapa yang tidak jelas. Kalau memang mau menyebarkan informasi yang sangat penting misalnya tentang ketentuan PSBB atau Ganjil-Genap kendaraan lebih baik share link berita. Dan beritanya juga dipilih yang tidak menyebut nama-nama yang disebut di poin pertama.


3. Jangan mengajak berdiskusi tentang teori-teori konspirasi.

Gak perlu lah ya perdebatan soal bentuk bumi dan apakah Neil Armstrong benar-benar ke bulan di bawa ke group whatsapp keluarga. Ending-ending nanti nyambung ke masalah iman dan kepercayaan malah jadi lebih kacau.


4. Kalau ada yang share seperti poin 1 , 2, 3, udah deh, diamkan saja. Langsung alihkan pembicaraan ke topik lain.

Misalnya saja ngomongin Resep Oatmeal Paling Enak, Paling Sederhana, Gak Ngebosenin dan Anti Gagal. Gak masalah gak nyambung. Yang penting group adem ayem.


5. Jangan jualan.

Awalnya satu orang jualan, nanti kalau lama-lama hampir semuanya jualan di group keluarga akan menimbulkan persepsi si A cuma dekat dengan X, Y, Z. Dan akhirnya menimbulkan perpecahan.


6. Sesekali coba luangkan waktu untuk melakukan untuk live beresama.

Bisa pakai zoom atau video call group whatsapp. Sebenarnya perpecahannya itu sudah terjadi karena memang sudah jarang banget tatap muka dan bercanda bareng. Komunikasi cuma lewat teks dimana pasti pering banget maksud yang disampaikan jadi salah karena teks tidak memiliki intonasi. Coba deh sekali-sekali ZOOM bareng. Pasti rasa sayang ke saudara-saudara jauh jadi lebih tumbuh.

Apa lagi kira-kira? Yang punya jawabannya bisa tulis di kolom komentar di bawah ya.

Sekian atikel gue kali ini. Like, share dan follow / subscribe jika kalian suka dengan artikel ini. Kalau kalian mau kasih dukungan buat gue beli kopi bisa klik atau scan QR Code dibawah. Terima kasih sudah membaca.

https://saweria.co/alvipunyacerita

Salam Anget,

-Alvi Alevi-

Sumber gambar : instagram.com/jokowi

Baca juga artikel lainnya di bawah ini. Terima kasih.

Penulis: Alvi Alevi

Male, 1993, Sagitarius, First Child, Indonesian.

14 tanggapan untuk “Vaksinasi di Indonesia Dimulai, Perpecahan di Group Whatsapp Keluarga juga Dimulai”

  1. Kami sekeluarga lebih memilih menghindari masalah dgn tidak memiliki WA Keluarga. Belajar dari pengalaman, karena pasti ada saja perbedaan pendapat. Kebetulan memang aku dan adik2 bukan termasuk org yg suka dgn begitu2, jadi sah saja.
    Di WA keluarga yg mau tidak mau harus ikut, aku memilih pasif bahkan kadang tidak membuka sampe lama. Tidak masuk akal memang menurut orang, tapi … ya sudahlah …

    Disukai oleh 1 orang

    1. Waktu WA keluarga besar dibuat biasanya tujuannya baik. Supaya bisa tetap ngobrol bareng tanpa harus kumpul secara fisik. Tapi pada akhirnya hasrat untuk memaksakan pilihan lebih besar dari hasrat untuk menciptakan keluarga besar yang rukun. Jadi ya sudah, orang tua pun bisa kaya anak kecil yang suka tiba2 left. hahaha.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Dan itu sudah terjadi juga di salah satu grup yg aku ikuti.
        Orang tua left. Saat itu aku adminnya. Terus beliau Japri lagi ke aku, bilang supaya semua anaknya yg ada dalam grup dikeluarkan juga. Jadi kubilang saja, aku sdh stek semua jadi admin. jadi kalo mo keluar, keluar saja. Sudah itu grupnya mandeg. Sekarang mati suri. Aku bahkan sdh mskas bukanya🥺🤭🤭

        Suka

    2. Wag oh wah… sptnya memang harus dibuat etiket yg disepakati sebelum.membuat WAG. Aku juga yg aktif hanya WAG urusan kerja dan RT saja. WAG sekolah rada males apalagi kalau sdh debat dan pro kontra hal2 politik atau pemahaman. Lebih silince reader dan kalaunsdh penuh tinggal clear chat. Msh ada gk enak kalau harus left. 😅

      Suka

Berikan Apresiasi Kalian terhadap Tulisan Ini dengan Berkomentar. Terimakasih.

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s