Aku Benci Pikiran Liarku Tentang Vaksinasi Covid-19

Gue berusaha patuh dengan aturan protokol kesehatan sama seperti gue patuh terhadap peraturan keselamatan lalu lintas yang mengharuskan pengedara motor pakai helm dan menyelakan lampu utama serta pengendara mobil yang diharuskan menggunakan sabuk pengaman atau seat belt.

Sepertinya berita mengenai vaksinasi covid-19 yang akhirnya digratiskan oleh pemerintah masih menjadi trending di group – group whatsapp mengalahkan trending di google yang sedang ramai membicarakan Leverkusen vs Bayern, Cracovia vs Lechia, Newcastle vs Fulham, Eibar vs Madrid, Sampdoria vs crotone, Crystal Palace vs Liverpool, Parma Vs Juventus, Everton vs Arsenal, Southampton vs Man City, Atlético Madrid vs Elche, Union Berlin vs Dortmund, Man Utd vs Leeds, dan beberapa pertandingan sepak bola lainnya.

Hampir setiap hari di hampir semua group whatsapp yang gue ikuti selalu ada yang forward berita, meme dan hoax seputar vaksinasi covid-19. Jujur gue termasuk orang yang sudah berusaha untuk keluar dari bayang – bayang ketakutan karena covid-19. Bukan berarti gue tidak mengindahkan aturan protokol kesehatan. Gue berusaha patuh dengan aturan protokol kesehatan sama seperti gue patuh terhadap peraturan keselamatan lalu lintas yang mengharuskan pengedara motor pakai helm dan menyelakan lampu utama serta pengendara mobil yang diharuskan menggunakan sabuk pengaman atau seat belt.

Kembali ke soal vaksinasi covid-19.

Gue pribadi termasuk yang merasa harus berpikir berkali – kali untuk mengijinkan petugas kesehatan untuk menyuntikkan cairan vaksin ke dalam tubuh gue dimana selain gue takut banget sama jarum suntik gue juga jarang banget mengkonsumsi obat kalau tidak benar – benar sakit. Apakah gue melihat kesakitan akibat virus covid-19 ini? Jawabannya adalah tidak. Yang gue lihat sejauh ini adalah ketakutan karena virus covid-19 dan kemiskinan yang juga bertambah karena pandemi ini. Sangat jarang gue melihat berita yang memberikan kesaksian betapa sakitnya jika terpapar covid-19. Justru kesaksian orang – orang terdekat gue yang sempat positif covid-19 menyatakan mereka tidak merasakan kesakitan apapun. Mereka hanya bosan karena tidak boleh kemana – mana. Tapi anehnya selama isolasi di rumah sakit atau wisma mereka diizinkan untuk pesan makanan melalui aplikasi online. Kalau gitu wajar kan kalau gue menilai rumah sakit pun menyepelekan covid-19 yang sebenarnya bisa juga hinggap ke pasien melalui makanan yang dikonsumsi dari luar rumah sakit atau wisma.

Jika kalian bilang gue menolak vaksin, gue katakan bahwa gue sama sekali tidak menolak. Gue sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang menurut gue bagus banget. Dan gue yakin pemerintah juga akan maklum jika banyak masyarakat seperti gue yang merasa ragu untuk menerima vaksinasi covid-19. Oleh karena itu pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk meyakinkan masyarakat.

Dan jika kalian bilang gue menyepelekan covid-19, gue katakan kalau kalian salah menilai. Gue cuma cukup sadar kalau hidup gue akan lebih buruk jika gue terlalu takut untuk beraktifitas. Karena gue harus bekerja untuk membayar banyak cicilan. Kalian yang punya cicilan rumah dan mobil dengan gaji pas – pasan pasti merasakan apa yang gue rasakan. Tapi gue tetap tidak menyepelekan covid-19. Gue berharap pandemi ini segera berakhir dan kondisi perekonomian di Indonesia bisa kembali normal.

Kembali ke judul artikel ini.

Gue cuma berpikir bagaimana jika vaksinasi covid-19 menjadi syarat untuk kita bisa mendapat pelayanan pemerintah dan perbankan? Bagaimana jika masyarakat yang sudah melakukan vaksinasi covid-19 mendapat sertifikat yang dimana sertifikat itu akan menjadi syarat wajib untuk kita mengurus data kependudukan, perpajakan, perbankan dan berbagai perizinan? Artinya gue gak bisa berpikir berkali-kali untuk menerima vaksinasi covid-19. Jujur gue jengkel banget sama pikiran liar gue. Tapi gue yakin (75%) kalau pemerintah tidak akan melakukan hal seperti itu.

Ah sudahlah. Aku benci pikiran liarku soal vaksinasi covid-19.

Sekian atikel gue kali ini. Like, share dan follow / subscribe jika kalian suka dengan artikel ini. Kalau kalian mau kasih dukungan buat gue beli kopi bisa klik atau scan QR Code dibawah. Terima kasih sudah membaca.

https://saweria.co/alvipunyacerita

Salam Anget,

-Alvi Alevi-

Sumber gambar : Business photo created by kjpargeter – www.freepik.com

Penulis: Alvi Alevi

Male, 1993, Sagitarius, First Child, Indonesian.

7 tanggapan untuk “Aku Benci Pikiran Liarku Tentang Vaksinasi Covid-19”

Berikan Apresiasi Kalian terhadap Tulisan Ini dengan Berkomentar. Terimakasih.

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s