Catatan Sebuah Kertas | Penantian Panjang Untuk Dibuang

Dear My Blog,

Ya, beginilah gue. Tercipta sebagai sebuah kertas. Setelah melalui perjalanan yang begitu panjang sejak gue masih berbentuk pulp, diolah hingga sekarang berada didalam sebuah pembungkus bersama 500 teman gue menanti kapan kami terjual dan kemudian digunakan. Gue berada ditumpukan ke 312 dari atas. Kami dibeli oleh sebuah perusahaan yang notabene sangat banyak menggunakan kertas. Gue menanti kapan waktu gue akan di keluarkan dan digunakan. Kami semua selalu ingin tau bagaimana keadaan teman kami yang sudah keluar dengan bertanya dengan lemari – lemari disekitar kami. “Apa yang tercetak ditubuhnya? Dimanakah tempat mereka sekarang?” Itu lah pertanyaan – pertanyaan kami. Tentu yang kami harapkan adalah kami menjadi kertas dengan perjanjian penting tercetak ditubuh kami disertai dengan tandatangan orang penting dan kami berakhir disebuah map mewah yang menjaga kami supaya tidak kusut. Harapan simple sebuah kertas. Namun tak banyak juga dari kami yang hanya menjadi ajang test print yang berakhir disebuah mesin penghancur kertas.

Sekarang gue sudah berada di tumpukan paling atas dan momen mendebarkanpun gue rasakah ketika gue diambil lalu dimasukkan ke wadah kertas sebuah printer yang sangat bagus. Nrit nit nrit nit, nrit nit, nrit nit, niiiiiiiiit.. Begitu lah suara yang gue dengar ketika melalu mesin pencetak itu. Gue segera di baca oleh makhluk yang biasa kami sebut monster. “Yaaah, tanggalnya salah.” ucap monster itu. Dan itu membuat gue benar – benar merasa gak ada harapan lagi untuk bisa berakhir disebuah map yang mewah atau paling tidak mendapat bubuhan tandatangan. Treeeeeeeeeeeettt… Gue tercabik – cabik oleh sebuah mesin penghancur kertas. Tubuh gue sekarang hancur menjadi helaian kertas. Gue sedih. Kalian para monster gak perlu mengucap bisa merasakan apa yang gue rasakan. Karena kalian gak akan tau gimana rasanya ketika kita hanya bisa menanti apa yang akan terjadi pada diri kita tanpa bisa berbuat apa – apa dan ternyata nasib buruklah yang kita dapat.

“Hei.. hei..” Tiba – tiba sebuah kertas hancur lain memanggil gue.

“Kenapa?” Jawab gue.

“Kenapa kok diem aja. Ayo kita main – main. Disini kan ramai.”

“Main – main? Gue baru aja dibuang. Dan gue sekarang adalah sampah.” *Dengan nada tinggi

“Hei coba kamu lihat sekelilingmu. Kita semua sama. Kalo kamu menyebut kita sampah, ya itu lah kita sekarang. Kita semua awalnya punya harapan yang sama untuk bisa tidak berakhir disini. Tapi coba kamu pikirkan. Kita akan di daur ulang dan menjadi pribadi yang baru lagi. Tidak seperti temen kita yang akan abadi di sebuah map hingga api akan melalapnya menjadi sebuah abu yang tidak bisa didaur ulang.”

Sosok kertas itu menyadarkan gue dan membuat gue segera menghapus kesedihan gue dan cuma dua kata yang kemudian gue ucap, “main yuuk!!”

Best Regrads,

Kertas 312

Advertisements

22 thoughts on “Catatan Sebuah Kertas | Penantian Panjang Untuk Dibuang

Berikan Apresiasi Kalian terhadap Tulisan Ini dengan Berkomentar. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s