13 Moments : 13 Desember 1993

Yaa, karena disinilah moment paling sakralnya. Disinilah hidup gue dimulai. Di tanggal 13 Desember 1993.

Gue gak akan cerita ginama proses pembuatan gue sampai akhirnya terciptalah manusia mutan (imut dan jantan) seperti gue karena itu bukanlah moment gue, melainkan moment sakral orang tua gue.

Dan yang paling penting adalah ini bukan buku biologi SMA yang membahas tentanng proses reproduksi (baca:pembuatan manusia).

Saat gue dilahirkan yang  jelas gue langsung menangis tanpa harus pantat gue yang terlahir seksi ini digampar sama dokternya untuk membuktikan gue hidup atau gak.

Karena gue lahir langsung nangis seperti anak durhaka yang insaf dan minta maaf sama nyokapnya sambil nangis dan ngomong

“Bunuh aku saja, mama. Aku tidak pantas jadi anak mama. .”

Dan anehnya, kenapa setiap bayi lahir harus menangis?

Saat di SMA gue telah menemukan jawabannya.

Itu karena, dia adalah bayi. Gue memang gak pinter di pelajaran biologi. Tapi gue tau jawabannya yang lebih tepat tanpa ada unsur biologinya.

Ketika kita terlahir didunia ini, kita menangis, dan orang lain tersenyum. Dan ketika kita meninggalkan dunia ini, kita tersenyum, dan orang lain menangis.

Sebuah kaliamat yang gue dapet dari guru agama gue waktu gue kelas IX di SMP Bruderan Purworejo.

Ngomongin tentang kelahiran gue jadi inget ada pepatah yang berbunyi begini, Bagaikan makan buah simalakama.

Yang artinya kalau dimakan ibunya akan mati, tapi kalau tidak dimakan anaknya yang akan mati. Jadi sangat tidak mungkin ibu dan anaknya akan selamat.

Tapi gue memegang suatu keyakinan bahwa gak ada sesuatu didunia ini yang gak mungkin.

Karena jika gue sedang berada dihadapan seorang ibu yang sedang sedih harus memilih mana yang akan diselamatkan.

Antara dia atau anaknya. Gue akan bilang ke suaminya supaya dia membelikan buah simalakama lalu di jus untuk kemudian diminum oleh istrinya supaya ibu dan anaknya selamat.

Kenapa bisa begitu?

Karena pepatah tersebut hanya member pilihan antara dimakan atau tidak dimakan.

Jaman sekarang kan apapun bisa di jus. Jadi ini gak masuk kategori dimakan dong.

Tapi diminum. Selesai kan? Dengan begini mungkin pepatahnya akan dirubah menjadi seperti ini,

Bagai mengkonsumsi buah simalakama.

Kalau dimakan ibunya akan mati, kalau tidak dimakan anaknya akan mati dan kalau diminum suaminya akan minta cerai. Nahlo.

Salam Anget,

-Alvi Alevi-

Penulis: Alvi Alevi

Male, 1993, Sagitarius, First Child, Indonesian.

6 tanggapan untuk “13 Moments : 13 Desember 1993”

Berikan Apresiasi Kalian terhadap Tulisan Ini dengan Berkomentar. Terimakasih.

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s